Apakah teman-teman masih ingat cerita tentang kegiatan para ibu dari Pesantren Fatihatul Qur’an Kemang, Bogor, beberapa waktu lalu? Ya, cerita berjudul “Biarkan Anak Selesai Bicara…”, yang menggambarkan aktivitas para trainer LVE yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Bahagia (GIB) berbagi “5 Kiat Orangtua Damai, Anak Bahagia” dengan orangtua santri pesantren. Ini adalah satu dari agenda rutin dua kali setahun GIB berkegiatan di masyarakat  seperti  di pesantren, sekolah, serta komunitas lintas agama di Jakarta dan sekitarnya. Kali ini kami, para fasilitator di InLOVE Community, akan membagikan cerita dari tempat yang sama dengan partisipan yang berbeda; para santri! Acara ini tidak lepas dari peran Pimpinan Pesantren, Uztad Muhammad Monib, seorang fasilitator aktivitas nilai, yang pernah mengikuti LVE di Ubud, Bali.

Kegiatan ini diikuti sekitar 40 orang santri Pesantren Fatihatul Qur’an yang berusia 6 – 7 tahun. Didahului dengan sesi perkenalan, para santri kemudian diajak bernyanyi dan bergerak bersama. Lagu yang digunakan untuk aktivitas tersebut adalah lagu Naik Delman, Ampar-ampar Pisang (lagu daerah Kalimantan Selatan), dan Cublak-cublak Suweng (lagu daerah Jawa). Setelah bernyanyi dan menari, Rizka membagi peserta ke dalam dua kelompok; laki-laki dan perempuan. Kelompok laki-laki dipandu oleh M. Agung Prasyetio, M. Aprialdo, dan M. Fathurrahman. Kelompok perempuan dipandu oleh Hani Rofiqoh, Rizka Farhana Desrilia, dan Azizah Firdayanti.

Kak Rizka dan Kak Hani memandu anak-anak di kelompok perempuan.

Kerukunan dan kerjasama para santri jelas terlihat. Di masing-masing kelompok, anak-anak saling berbagi semangat dan bantuan dengan menjelaskan cara bermain pada teman yang belum paham. Fasilitator juga mengajak anak-anak menggali informasi seputar lagu, seperti daerah asal lagu, kapan biasanya lagu tersebut dinyanyikan dan permainan itu dimainkan. Mereka juga menjelaskan arti dan nilai di balik sebuah syair. Antusiasme terlihat dari bersahut-sahutan untuk bisa mengeluarkan pendapat.  Salah satu manfaat yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah agar anak-anak lebih dekat mengenal dan lebih dalam mencintai budaya Indonesia. Uztad Monib yang ikut memantau dan mendokumentasikan acara ini mengatakan bahwa belum banyak yang tahu bahwa permainan Cublak-cublak Suweng adalah warisan Sunan Giri, salah satu dari Wali Sanga. (Catatan: Dari beberapa sumber disebutkan bahwa makna dari syair lagu Cublak-cublak Suweng adalah: untuk mencari harta Kebahagiaan Sejati kembalikanlah pada hati nurani, sehingga harta kebahagiaan bisa melebur, melimpah, dan menjadi berkah bagi siapa saja).

Terlihat di kelompok kecil para anak-anak memainkan permainan Cublak-cublak Suweng begitu serius.

Dalam sesi selanjutnya, para fasilitator mengajak peserta bermain “Tanganku Untuk….”. Azizah membagikan kertas dan spidol kepada anak-anak untuk media menggambar dan menulis. Di kertas tersebut anak-anak mengekspresikan pengalaman mereka menggunakan tangan untuk kegiatan positif.  Dipandu oleh M. Fathurrahman, anak-anak diajak lebih menyadari fungsi tangan dan menggunakannya dengan lebih bijak. Setelah selesai menggambar dan menuliskan berbagai aktivitas tangan, peserta dipersilakan menunjukkan dan menerangkan gambarnya di hadapan semua peserta. Salah seorang anak menceritakan bagaimana menyadari bahwa ada banyak hal positif yang sudah pernah dan selalu bisa dilakukan dengan tangannya. “Dengan tanganku ini, aku bisa menolong ibu belanja di warung”, ujarnya dengan riang.

Salah satu anak sedang menggambar tangan dan menuliskan kegiatan positif yang bisa dilakukan dengan tangannya.

Seluruh fasilitator juga tergabung dalam Gerakan Indonesia Bahagia (GIB). Hani adalah fasilitator aktivitas nilai yang saat ini bekerja di PKH Kemensos Jakarta Barat. Sedangkan kelima fasilitator lainnya adalah anggota InLOVE Community yang saat ini masih kuliah di UIN Syarif Hidayatullah. Menjadi fasilitator di berbagai kegiatan baik dengan orang tua dan anak secara otomatis melatih mereka untuk semakin percaya diri dan terampil mengelola sesi. Bagi Fathur, sebagai fasilitator, yang terpenting dari kegiatan ini adalah kesadaran bahwa anak-anak mudah menemukan kebahagian dari hal-hal sederhana. “Saya mencoba menghidupkan nilai percaya diri pada seorang anak TK dengan memberikan dorongan positif padanya. Awalnya anak ini ragu-ragu dalam menggambar, apalagi bercerita. Saya katakan, pasti banyak yang bisa dilakukan tanganmu. Saya bantu ia menaruh satu tangannya di kertas, lalu membimbing tangan satunya yang memegang pensil untuk membuat jiplakan tangannya.

Kesan positif juga disampaikan oleh Agung Prasetya. “Sebagai mahasiswa yang digadang-gadang menjadi agen perubahan, saya sangat senang bisa berkontribusi dalam kegiatan GIB.” Bagi Agung, menyanyikan lagu dan memainkan permainan tradisional adalah bentuk sederhana dari upaya melestarikan budaya Nusantara. “ini mengajarkan saya bahwa untuk berbagi tak selalu dengan materi. Meluangkan waktu dengan melakukan aktivitas nilai dengan para santri, kita bertemu muka, pikiran dan jiwa”. Bermain bersama dan melihat langsung keceriaan di wajah, mendengar anak-anak mengatakan “senang dan seru!” adalah hal yang membahagiakan.

Azizah memimpin anak-anak untuk mau bernyanyi bersama.

Di akhir sesi, anak-anak bersalaman-salaman, saling mengucapkan terimakasih, dan berharap para fasilitator GIB mau kembali berkegiatan bersama. Senada dengan yang dikatakan anak-anak, para orangtua ingin kembali berkumpul, memotivasi diri untuk menguatkan kualitas mendidik anak.

Kontributor: M. Fathurrahman

Link Instagram:

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment